Rajin Lari, Minum Lebih Banyak Air

Rajin Lari, Minum Lebih Banyak Air

KUNCI penting saat berolahraga lari adalah mencukupi cairan yang dibutuhkan tubuh. Namun, berapa jumlah ideal yang harus dikonsumsi?
dr Hario Tilarso, spesialis kesehatan olahraga dari RS Premier Bintaro menegaskan, tidak ada angka khusus untuk jumlah kebutuhan air minum saat berlari. Kebutuhan air sebenarnya tergantung dari jarak lari yang diambil dan keluarnya keringat.

"Bagi orang yang rajin olahraga, kan pasti keringat yang keluar lebih banyak dibanding pemula karena faktor metabolisme. Nah, yang rajin lari ini minumnya harus lebih banyak," katanya di Jakarta, baru-baru ini. (Baca: Manfaat Sehat Seks secara Fisik & Emosional)

Sementara itu, jarak juga bisa dijadikan patokan seberapa banyak air yang harus dikonsumsi. Jika jarak yang ditempuh untuk berlari sangat jauh, maka seseorang harus mengonsumsi air lebih. (Baca: Teh Manis Tak Baik Dikonsumsi saat Sahur)

" Kebutuhan orang berbeda-beda. Jika jarak larinya jauh, pelari harus meminum banyak air," simpulnya. (Baca: Cara Mencegah Mr P Berbau Tak Sedap) (fik)


View the original article here

Makanan Organik Lebih Sehat dari Non-organik

Makanan Organik Lebih Sehat dari Non-organik

PERDEBATAN antara makanan organik dan makanan non-organik selesai. Faktanya, makanan organik merupakan makanan yang paling sehat dibanding non-organik.
Dalam penelitian yang diterbitkan British Journal of Nutrition, tanaman organik mengandung lebih banyak antioksidan dan lebih sedikit residu pestisida. Untuk mendapatkan hasil itu, para ilmuwan memeriksa 343 publikasi hasil penelitian. Mereka membandingkan kualitas gizi dan keamanan makanan antara nabati organik dan makanan konvensional atau non-organik. Agar lebih valid hasilnya, hampir semua tanaman yang diteliti ditanam di area dan tanah yang sama.
Para peneliti juga menemukan bahwa makanan organik mengurangi paparan terhadap bahan kimia pertanian sebanyak hampir 50%. Sementara tanaman konvensional tiga sampai empat kali lebih mungkin terpapar residu pestisida. Di mana paparan ini sudah dikaitkan dengan cacat lahir, kerusakan saraf, dan beberapa jenis kanker. Demikian seperti dilansir Mensfitness. (Baca: SDM Berkualitas Dimulai Sejak Dalam Kandungan)
Tak sampai disitu, kelebihan dari makanan organik tidak hanya memotong paparan bahan kimia berbahaya saja. Tetapi juga bisa meningkatkan status gizi dalam tubuh seseorang.  Penelitian sudah mengatakan, dengan beralih ke pola makan organik, seseorang akan mengalami 20 sampai 40% peningkatan konsumsi antioksidan dan polifenol (setara dengan menambahkan dua porsi tambahan buah atau sayuran perhari).
(fik)

View the original article here

Tiga Cara Sederhana Jadikan Hidup Lebih Sehat

Tiga Cara Sederhana Jadikan Hidup Lebih Sehat

HIDUP sehat bisa berawal dari kebiasaan yang dilakukan sehari-hari, termasuk pola makan. Pola makan yang sehat akan memengaruhi kesehatan secara keseluruhan.

Pola makan yang sehat cukup sederhana. Anda cukup mengonsumsi beberapa makanan tertentu, ada pula yang harus dihindari. Berikut beberapa makanan yang harus dikonsumsi dan dihindari agar hidup lebih sehat, seperti dilansir Womensfitness, Kamis (17/7/2014)

Bebas daging

Makanlah daging lebih sedikit dan perbanyak sayuran. Pasalnya, menurut penelitian dari Oxford University, menjadi vegetarian memiliki risiko 32 persen lebih kecil untuk menderita penyakit jantung.

Mengurangi kafein

Mengonsumsi minuman berkafein akan menurunkan kesehatan Anda. Karenanya, mulailah untuk mengurangi beberapa cangkir dalam sepekan, seperti minum secangkir teh hijau atau susu untuk memulai pagi yang sehat. (Baca: Cara Hindari Heat Stress Selama Ramadan)

Mengonsumsi sayuran hijau

Mengonsumsi sayuran hijau dapat membantu meningkatkan detoksifikasi hati dengan mengeluarkan racun keluar dari tubuh. Karena itu, pastikan setiap hari mengonsumsi kale, brokoli atau bayam saat makan siang dan makan malam untuk kulit yang lebih cerah. (fik)


View the original article here

Makin Dihisap, ASI Akan Keluar Lebih Banyak

Makin Dihisap, ASI Akan Keluar Lebih Banyak

BANYAK ibu segera memberikan susu formula saat ASI mereka tidak keluar atau hanya keluar sedikit. Padahal, pilihan tersebut tidak perlu segera dilakukan karena yang dibutuhkan hanyalah kesabaran.  
"ASI itu secara natural memang pasti cukup, dan akan selalu mencukupi kebutuhan bayi," kata dr Agnes Mallipu dari Global Alliance for Improved Nutrition usai konferensi pers "Program Peningkatan Gizi Ibu, Bayi dan Anak" dalam rangka Gerakan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) di Jawa Timur di Hotel JS Luwansa, Jakarta, baru-baru ini. (Baca: Kentut Berbau Menyengat Baik untuk Kesehatan)
Terpenting,  yang perlu dilakukan para ibu adalah sabar untuk terus merangsang keluarnya ASI. "Para ibu memiliki kelenjar susu, dan itu akan berproduksi (mengeluarkan ASI-red) kalau ada rangsangan dari hisapan bayi. Jadi, kalau makin dirangsang puting susunya maka produksi ASI makin banyak," imbuhnya. (Baca: Pasien Penyakit Jantung Tak Bisa Puasa jika...)

Sementara itu, kata dia, jika sudah diperkenalkan susu formula, bayi cenderung akan malas menghisap ASI. Tentu, ini dengan sendirinya mengurangi produksi ASI. Dia menekankan ibu untuk tidak segera memberikan susu formula dan tidak khawatir jika produksi ASI kurang mencukupi kebutuhan bayi. (Baca: Mau Puasa, Pasien Jantung Perlu Konsultasi Dokter)
"Itu karena saat umur bayi masih di bawah tujuh hari, volume lambung masih sangat kecil, dan masih tumbuh. Artinya apa? Secara anatomi, ibu dan bayi sedang dalam tumbuh bersama, inilah yang harus diketahui masyarakat," pungkasnya.
(ftr)

View the original article here